Budaya Spiritual Nusantara

BUDAYA SPIRITUAL NUSANTARA (Menyongsong Indonesia Mas).


○Isi pengantar : 

Penulisan budaya spiritual nusantara ini adalah jihad intelektual. Berisi sebuah kesadaran batin yg mensinergikan ilmu pengetahuan (ilmiah) & pengalaman berspiritual (Alamiah). Bahasanya mudah dimengerti & enak untuk dibaca (Linguistik). Metode penulisannya menggunakan logika formil (Ideo plastika) & logika materiil (Psio plstika) dengan mazas isti'aroh (Analogi) sbg alat bantunya. Referensi yg dimuqodimahkan berupa ayat ayat agung sbg pensuci ruh & penguat jiwa serta pendorong aktivitas raga untuk siapa saja yg membacanya. 

Maksud & tujuan : 

Maksud dari penulisannya sangat jelas yaitu sbg jembatan informasi. Jembatan informasi "Bersambung" untuk masyarakat & para pegiat supra natural (Kekuatan alami). Laksana jendela, jendela untuk melihat secara lebih dekat hakikat budaya adiluhung nusantara secara lebih luas & lebih mendalam (Esensi). Sedangkan tujuannya, merupakan sumber lmu pengetahuan (Input) & Majlis Sabda Alam sbg sarana atau wadah untuk menumpahkan ide dlm bentuk kreatifitas hidup maknawi (Output). 

Kita percaya, dengan bekerja sama & sama sama bekerja, media online yg sdh munfuni akan mampu mengangkat nilai nilai luhur budaya kearifan lokal menuju *#INDONESIA MAS (Makmur Adil dan Sejahtera).

Penutup : Dengan membaca kita mendapat ilmu pengetahuan. Dengannya  (Iqro), kita beriman & beramal. Dengan membaca kenyataan hari ini, berarti kita ada & dengan memahami keberadaan hari ini berarti kita bisa!.. 

Satuhu kang hayu rahayu ing budi...

Siswa Sabda Alam (Jaka). 

●KEBUYUTAN = 



Sebagai kata benda, kebuyutan mempunyai arti yg lebih khusus, yakni tempat para guru pujangga bekerja menulis kidung macapat sekaligus berfungsi sbg tempat "Washilah" bagi para pegiat spiritual yg memperlihatkan jejak kebudayaan nusantara sbg penyangga peradaban. Kebuyutan sbg jendela astral (Ghoib) laksana magnet, magnet energi methapysik yg mengikat manusia untuk tidak kehilangan akal budi/kesadaran lahir batin. Jika kebuyutan dihancurkan, maka peradaban bumi'pun hancur serupa dngn hancurnya kebuyutan itu. Atas dasar inilah karakter kebuyutan dapat menjadi prinsip dasar untuk membangun jiwa (Pikiran, perasaan & emosi). Pembangunan karakter khas kebuyutan ini disebut iman (Star principlle). Petunjuk pelaksanaannya disebut Islam (Leadership principlle) & langkah penyempurnaannya disebut ihsan (Vision principlle). Dengan kurikulum washilah inilah para salik/pengamal suluk berkeperluan kepada-Nya (Man) siapa yg dilangit & dibumi, setiap hari DIA (Gusti Allah) dlm kesibukan. "Semua yg ada dilangit & dibumi meminta kepada-Nya. Setiap waktu Allah dalam kesibukan"(QS.55 Ar-Rohman 29). 

Menurut tradisi kebuyutan, seorang spiritualis sejati bukan sekedar pandai memimpin dirinya sendiri, melainkan memiliki kerangka keyakinan yg jelas dlm ekspresi aslinya. 

Budaya spiritual nusantara sebagai reklamasi sejarah, hal ini akan dpt diahami melalui penginderaan & dpt dimengerti melalui ruh tradisinya. Cakap & cukupnya, kaum yg berfikir pada zaman dahulu itu (Leluhur soleh) telah memberikan bukti & kesaksian asli berupa tempat maqom keramat yg kita kenal dngn sebutan kebuyutan. "Janganlah kamu mengatakan orang" yg gugur dijalan Allah itu telah mati, sebenarnya mereka itu hidup. Tetapi kamu tdk menyadarinya"(QS.2 Al-Baqoroh 154 - QS.3 Ali Imron 169). 

Sebagai kenyataan sejarah peradaban manusia (Historiografi). Petilasan Ki.Buyut Kowang berada di desa Druntenwetan Kecamatan Gabuswetan yg dulu dulunya merupakan teritorial kawedanan 5 Parian (Sekarang Ds.Parean girang) sekitar 500 M dari desa Pranti kecamatan Kandanghaur. Ditempat inilah Ki.Buyut Kowang membersihkan bantaran sungai sekaligus membukanya sebagai tempat tinggal & tempat belajar mengajar prama sastra jawa yg hingga sekarang maha karyanya itu menjadi warisan pusaka budaya masy desa Pranti. Sebuah bangunan sederhana yg dikelilingi bata merah dngn bangunan atap alang alang/welit. Didalamnya terdiri dari ruang petilasan & ruang paseban. Diruang utama terdapat maqom keramat. Sedangkan bangunan penyangga lainnya yg sudah punah ialah sanggar pasujudan/tajug & pancaniti tempat Ki.Buyut bermusyawarah menetapkan petung & pranata mangsa untuk menetapkan waktu (Astrologi). 

Dalam aktivitas keseharian, kebuyutan dikerjakan oleh seorang juru kunci yg bertugas merawat petilasan & pejimatan. Agenda juru kuncen ialah mempersiapkan ritual adat desa Pranti yg dilaksanakan Ki. Kuwu SUKRI setiap tahun dlm bentuk prosesi adat yg disederhanakan. Bertujuan menentukan waktu & persiapan untuk setiap musim tanam & musim panen. Dengan demikian, jadwal waktu tanam & jumlah kebutuhan bahan yg diperlukan petani siap disediakan."Dialah Allah yg menjadikan marahari & bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah"(QS.6 Al-An'am 96 - QS.10 Yunus 5). 

□Bersambung.... (Washilah=Apakah washilah itu? Siapa yg memerintahkan kita untuk bertaqorub? Mengapa hrs berwashilah? Kapan waktu yg tepat untuk melaksanakan laku washilah? Bagaimana cara berwashilah yg baik?

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Budaya Spiritual Nusantara"

Posting Komentar